Suaraposkodualima

Minggu, 20 Maret 2022

Atasi Gelisah Saat Jalan Hidup Kita Terasa Lebih Lambat Dari Orang Lain

Suaraposkodualima - Tiap kali membuka media sosial, kita akan langsung dihadapkan pada cerminan hidup banyak orang. Tiap unggahan yang kita lihat membuat kita langsung membuat perbandingan hidup. Bahkan makin sering kita melihat kehidupan orang lain, kita makin merasa tertinggal.

Ada yang sudah lebih dulu menikah, punya anak, berkarier dengan jabatan tinggi, membuat karya-karya luar biasa, dan banyak lagi. Saat kita melihat semua itu, kita jadi merasa jalan hidup kita terasa lebih lambat. Kita merasa tertinggal dan makin gampang gelisah jalani hidup sendiri. Kalau sudah begini, apa yang sebaiknya kita lakukan?

1. Hadirkan senyum saat melihat kehidupan orang lain : Tersenyum saja saat melihat orang lain bahagia. Senyuman ini bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Ikutlah tersenyum karena ikut berbahagia dengan pencapaian hidup orang lain. Tepis rasa iri atau cemburu. Sebab sebuah senyuman akan membuat suasana hati kita jauh lebih baik.

2. Terima realitas hidup : Boleh saja menjadikan pencapaian orang lain atau kisah sukses orang lain sebagai motivasi diri. Boleh juga menjadikan orang lain sebagai panutan. Namun, yang tak kalah penting adalah coba untuk tetap menerima realitas hidup kita sendiri. Jalan hidup kita mungkin bukan lebih lambat, hanya berbeda. Sebab tiap orang lahir dengan nasib dan takdirnya masing-masing. 

3. Sayangi diri sendiri : Kadang kita merasa gelisah karena sebenarnya kita sedang jauh dari diri sendiri. Kita terlalu jauh melongok ke kehidupan orang lain sampai melupakan kehidupan sendiri. Maka dari itu, kali ini ambil jeda dan waktu khusus untuk mengapresiasi diri. Kembali sayangi diri. Kembali berterima kasih pada diri yang sudah melakukan yang terbaik hingga detik ini. Tepuk-tepuk pundak kita dan berterima kasihlah pada diri kita yang tak pernah menyerah menjalani hidup.

4. Tekuni hal yang kita sukai : Apa hal yang paling kita sukai? Bidang apa yang paling kita kuasai? Apa yang paling ingin kita kembangkan dari diri kita? Dari sini, temukan hal tersebut dan coba kita tekuni dengan sebaik mungkin. Setidaknya sibukkan diri dengan hal yang lebih bermanfaat supaya tidak gampang galau dengan standar hidup orang lain. Saatnya untuk membuat pencapaian diri kita sendiri.

5. Buat prioritas hidup yang baru : Belum terlambat untuk membuat prioritas hidup yang baru. Belum terlambat untuk mengatur dan menata ulang hidup kita. Mungkin bukan jalan hidup yang lebih lambat dari orang lain, tapi memang ada hal-hal yang perlu diselesaikan lebih dulu sebelum melangkah ke hal yang lain. Jadi, tak perlu meratapi keadaan terlalu lama.

Semoga untuk setiap upaya dan perjuangan yang kita lakukan, ada buah manis yang bisa kita dapatkan. Terima kasih sudah berusaha melakukan yang terbaik hingga titik ini, hidup tetap layak untuk diperjuangkan. (Red/niluh ishanori)

Selasa, 20 Juli 2021

Meneladani Nabi Ibrahim, Sang Kekasih Allah.

Suaraposkodualima - Momen peringatan Iduladha tidak dapat kita pisahkan dari ritual dan pengorbanan yang dijalankan oleh Nabi Ibrahim. Karenanya, mari kita gunakan kesempatan baik ini untuk menadaburinya, melakukan refleksi atasnya, dan meneladaninya.

Allah berfirman:

(120) Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah), (121) dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus. (122) Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang shalih. (QS An-Nahl 16:120)

Allah menegaskan bahwa dalam diri Nabi Ibrahim terdapat teladan.  Hanya Nabi Ibrahim yang selalu kita sebut dalam shalat, selain Nabi Muhammad. Doa yang kita baca untuk Nabi Muhammad ketika tasyahud selalu disetarakan dengan doa kita ke Nabi Ibrahim.

Ya Allah berilah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi selawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Ya Allah berilah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim.

Nama Ibrahim disebut sebanyak 69 kali di 24 surat dalam Alquran. Nama Ibrahim juga diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam Alquran, yaitu surat ke-14. Ibrahim adalah Bapak Para Nabi, Abulanbiya, karena sebanyak 19 keturunannya menjadi nabi, dari 25 nabi yang disebut dalam Alquran.

Predikat Nabi Ibrahim

Posisi istimewa Nabi Ibrahim juga diindikasikan dengan beragam predikat diberikan oleh Allah.

Pertama, Nabi Ibrahim sangat disayang oleh Allah dan karenanya berjuluk Kekasih Allah, Khalillulah. Pemberian predikat ini terekam pada ayat 125 Surat An-Nisa. Allah berfirman:

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kekasih(-Nya). (QS An-Nisa 4:125).

Kedua, Nabi Ibrahim adalah manusia pilihan terbaik, Al-Musthafa. Allah berfirman:

Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (QS Shad 38:47).

Mengapa menjadi manusia pilihan? Ayat sebelumnya menjelaskan

Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Yakub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi). (QS Shad 38:45).

Ketiga, Nabi Ibrahim juga termasuk salah satu nabi yang dijuluki Ulilazmi, karena keteguhan hati yang dimilikinya. Selain Nabi Ibrahim, nabi yang dimasukkan ke dalam kelompok Ululazmi adalah Nabi Isa, Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad. Nabi Muhammad pun diminta oleh Allah untuk meneladani ketabahan hati Ululazmi ini.

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah mereka tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah). (QS Al-Ahqaf 46:35).

Pelajaran dari Nabi Ibrahim

Beragam pelajaran bisa kita dapatkan dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim untuk kita teladani.

Pelajaran pertama. Nabi Ibrahim mengajarkan kita untuk terus memurnikan keimanan kepada Allah, termasuk dengan mengasah logika untuk meneguhkannya.

Kesadaran tauhid ini bahkan sudah dimiliki oleh Nabi Ibrahim ketika masih muda belia. QS Al-Anbiya ayat 52-54 merekam dialog antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, Azar, yang berprofesi sebagai pembuat berhala, serta kaumnya.

(52) (Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” (53) Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (54) Dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata. (QS Alanbiya 21:51-54)

Episode debat antara Nabi Ibrahim dan kaumnya dapat mengingatkan kita untuk selalu meneguhkan keimanan kita, dengan argumen yang logis. Ayat 76-78 Surat Al-An’am merekam episode tersebut dengan sangat indah.

Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS Al-An’am 6:76)

Lalu ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” (QS Al-An’am 6:76)

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (QS Al-An’am 6:78)

Nabi Ibrahim meneguhkan keimanannya dengan menyatakan:

Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. (QS Al-An’am 6:79)

Keteguhan iman Nabi Ibrahim tak luntur sedikitpun bahkah ketika dihukum oleh Raja Namrud dan kaumnya dengan dibakar hidup-hidup. Allah menyelamatkannya dengan memerintahkan api menjadi dingin.

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS Al-Anbiya 21:69)

Hubungan yang tidak baik antara Nabi Ibrahim dan ayahnya, akhirnya membuat Nabi Ibrahim diusir. Namun demikian, Nabi Ibrahim sebagai anak tetap menghormati ayahnya. Inilah pelajaran kedua.

Nabi Ibrahim mendoakan ayahnya,

… dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. (QS Asy-Syu’ara 26:86)

Doa Nabi Ibrahim kepada Ayahnya juga terekam dalam ayat lain.

Dia (Ibrahim) berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. (QS Maryam 19:48)

Episode ini mengajarkan kepada kita, dalam kondisi apapun, sikap santun kepada orang tua tetap harus dijaga.

Dalam ayat lain, Alquran mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap lemah lembut kepada dan merendahkan hati kita di hadapan orang tua kita. Kita diminta oleh Allah menggunakan kata yang mulia (qaulan kariman). Kita dilarang membentak dan meremehkan mereka.

Ini adalah pelajaran penting ketika semakin banyak anak muda melupakan akhlak bagaimana bersikap dengan orang tua.

Pelajaran ketiga. Di sisi lain, sebagai ayah, Nabi Ibrahim sangat menghargai anaknya, Nabi Ismail.

Dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika diperintah Allah untuk disembelih menggambarkan itu semua. Meski Nabi Ibrahim jelas diperintah oleh Allah, namun tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail. Nabi Ibrahim bahkan bertanya kepada Nabi Ismail tentang pendapatnya. Sangat demokratis.

Nabi Ibrahim menganggap Nabi Ismail sebagai orang dewasa yang telah siap memilih, sebagaimana diceritakan pada QS Ash- Shaffat ayat 102:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS Ash- Shaffat 37: 102)

Episode ini juga memberikan pelajaran keempat, bahwa Nabi Ibrahim mencontohkan keikhlasan untuk mengorbankan anak yang dicintainya di jalan Allah. Kita bisa bayangkan tingginya rasa sayang Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail, yang lahir setelah penantian 86 tahun. Nabi Ishaq lahir 13 tahun setelah Nabi Ismail, ketika Nabi Ibrahim berumur 99 tahun.

Sanggup mengorbankan sesuatu yang kita cintai, seperti harta, di jalan Allah dengan ikhlas adalah salah satu sifat orang bertakwa. Hewan kurban yang kita sembelih mulai hari ini adalah satu cara kita meneladani Nabi Ibrahim.

Pelajaran kelima. Nabi Ibrahim sangat peduli dengan masa depan keturunannya, baik dari aspek keimanan maupun kesejahteraan. Doa Nabi Ibrahim berikut mengindikasikan itu.

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim 14: 37)

Tentu masih banyak pelajaran yang dapat kita teladani dari Nabi Ibrahim. Di akhir khutbah ini, mari kita rangkum pelajaran tersebut:

  1. Sebagai hamba Allah, kita belajar untuk selalu menemurnikan dan meneguhkan imam; kita juga belajar keikhlasan dalam mengorbankan sesuatu yang kita cintai;
  2. Sebagai anak, kita belajar untuk tetap menghormati dan mendoakan orang tua, dalam kondisi apapun;
  3. Sebagai orang tua, kita belajar untuk menghargai anak dan mendengar pendapatnya;
  4. Sebagai pendahulu, kita belajar untuk peduli dengan masa dengan keturunan, tidak hanya dari sisi iman, tetapi juga kesejahteraan.

Mari, momentum Iduladha 1442.H/2021.M, ini kita jadikan untuk memperbaiki diri. Semoga dengan pertolongan Allah, kita selalu merasa ringan dan mudah dalam mengikuti teladan yang diberikan oleh Nabi Ibrahim. (Red/khauripan)





Jumat, 14 Mei 2021

Mengenal Apa Arti Dengan Lebaran Ketupat.

Suaraposkodualima - Idulfitri merupakan momen besar bagi umat Islam di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Di Indonesia, Idulfitri dikenal juga dengan sebutan Lebaran.

Momen ini selalu identik dengan kembali ke fitrah dan saling memaafkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lebaran adalah hari raya umat Islam yang jatuh pada 1 Syawal setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Istilah Lebaran sendiri tak lepas dari ketika Islam pertama kali masuk ke Indonesia. Lebaran menjadi bagian dari tradisi dan budaya masyarakat, khususnya di Pulau Jawa. Asal usul kata Lebaran memiliki ragam versi. Dalam bahasa Jawa, Lebaran berasal dari kata “wis bar” atau sudah selesai. Bar merupakan bentuk pendek dari kata “lebar” yang berarti selesai. Lebaran dimaknai sebagai selesainya bulan puasa dan disambutnya hari kemenangan.

Dalam versi lain, masih berasal dari budaya Jawa, Lebaran dimaknai sebagai lebar-lebur-luber-labur. Lebar artinya telah menyelesaikan puasa, lebur berarti terhapus semua dosa yang dilakukan di masa lalu, luber berarti pahala, keberkahan, serta rahmat Allah SWT melimpah dan labur artinya bersih wajah dan hatinya.

Istilah Lebaran juga banyak digunakan untuk orang Betawi. Menurut mereka, lebaran berasal dari kata lebar yang dimaknai sebagai keluasan atau kelegaan hati umat Islam setelah sebulan berpuasa. Lebaran juga dimaknai sebagai kegembiraan menyambut hari kemenangan.

Ada beragam tradisi yang mengiringi momen Lebaran, di antaranya adalah mudik. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik bisa berarti berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai) dan juga berarti pulang ke kampung halaman. Para pemudik adalah mereka yang hijrah ke kota, daerah lain, bahkan negara lain, kemudian pulang ke kampung halaman untuk bertemu kembali dengan keluarga, sanak saudara, kerabat, dan sahabat.

Tradisi lainnya adalah takbiran, yakni melantunkan takbir pada malam sebelum Idulfitri. Biasanya dilakukan dengan membunyikan bedug atau berkeliling kota. Sayangnya, dua tahun terakhr Lebaran kali ini, berlangsung di tengah suasana pandemi, sehingga pemerintah menganjurkan untuk melakukan pembatasan. Mulai dari larangan untuk mudik, juga imbauan untuk tidak melakukan takbir keliling. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah persebaran Covid-19. Tentu, hikmat Lebaran tak akan berkurang meski dilakukan di tengah keterbasan.

Yang tak boleh absen dari Lebaran adalah sajian ketupat, yang disajikan lengkap dengan aneka menu pendamping seperti opor ayam, sayur godog dan sambal goreng kentang.

Bagaimana sejarah ketupat? Awalnya, ketupat bukan tradisi yang identik dengan Islam maupun Lebaran. Ketupat sudah ada pada masa pra-Islam dan tersebar di wilayah hampir di Asia Tenggara dengan nama yang berbeda-beda.

Jika kemudian ketupat menjadi identik dengan Lebaran, itu tak lepas dari pengaruh Sunan Kalijaga. Pada abad ke-15, Kanjeng Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai salah satu simbol untuk perayaan Hari Raya Idulfitri umat Islam sejak pemerintahan Demak di bawah kepemimpinan Raden Patah.

Sunan Kalijaga membudayakan dua kali bakda, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Selesai dianyam, ketupat diisi dengan beras kemudian dimasak lalu diantarkan ke kerabat yang lebih tua, sebagai lambang kebersamaan.

Di Jawa dan Sunda menyebut ketupat dengan kupat. Di Melayu, sebutannya ketupat sementara di Bali disebut dengan tipat. Ketupat sendiri juga memiliki makna, yaitu “ngaku lepat” yang berarti mengakui segala kesalahan. Ngaku lepat kepada setiap orang dengan bersilaturahmi dan saling memaafkan. Dengan mengakui kesalahan dan meminta maaf maka persaudaraan akan terjalin menjadi lebih baik. (Red/khauripan)



Kamis, 11 Maret 2021

Apakah Sudah Waktunya Sabdo Palon Noyo Genggong Nagih Janji.


Sabdo Palon Noyogenggong Nagih Janji ~Suaraposkodualima~

Awal kejatuhan Kerajaan Majapahit ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi "sirna ilang kretaning bumi " dibaca sebagai 0041, yaitu tahun 1400 Saka atau pada tahun 1478 Masehi.

Arti sengkala ini adalah “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Ada yang mengatakan bahwa candrasengkala tersebut adalah gugurnya Bhre Kertabumi atau Brawijaya V raja ke-11 Majapahit, yang diserang oleh pasukan Girindrawardhana.

Padahal Brawijaya V sebenarnya tidak gugur, ketika Keraton Majapahit diserang, Brawijaya V lolos dari kepungan prajurit Girindrawardhana. Dia menyamar sebagai pendeta Budha, kabur bersama abdi dalemnya yang bernama Sabdo Palon Noyo Genggong. Mereka mempunyai tujuan ke Gunung Lawu. Sehingga Brawijaya dikenal dengan nama Eyang Lawu.

Sementara R. Bima Slamet Raharja, dosen Sastra Jawa UGM mengatakan nama Sabdo Palon memang banyak disebut dalam khazanah kesusasteraan Jawa. Beberapa karya sastra Jawa yakni Darmogandhul dan Gatholoco menyebutkan nama yang diketahui sebagai penasihat Prabu Brawijaya di Kerajaan Majapahit.

Mas Syarif Hidayat juga mengatakan, Sabdo Palon itu abdidalem yang sakti mandraguna. Sabdo Palon akan pergi selama 500 tahun. Kemudian, Sabdo Palon menyatakan janjinya akan datang kembali di bumi tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu.

Tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap, dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Dalam dunia pewayangan keadaan ini dilambangkan dengan judul, “Semar Ngejawantah”.

Secara hakekat nama “Sabdo Palon Noyo Genggong” adalah simbol dua satuan yang menyatu, yaitu Hindu – Budha (Syiwa Budha). Di dalam Islam dua satuan ini dilambangkan dengan dua kalimat Syahadat. Di Bali hal ini dilambangkan dengan apa yang kita kenal dengan “Sad Kahyangan Jagad”. Artinya dalam kejadian ini delapan kekuatan dewa-dewa menyatu, menyambut dan menghantarkan Sang Hyang Ismoyo (Sabdo Palon) untuk turun ke bumi.

Di dalam kaweruh Jawa, Sang Hyang Ismoyo adalah sosok dewa yang dihormati oleh seluruh dewa-dewa. Dan gunung Merapi di sini melambangkan hakekat tempat atau sarana menitisnya dewa ke bumi.

Hal ini berhubungan dengan ramalan Sabdo Palon tentang tanah jawa. Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. Mereka berbicara, Sabdo Palon mengatakan, kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa.

Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuat.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tani demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Hutan kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia.

Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal. Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari mangsa. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut.

Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia. Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati.

Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang. Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun. Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah.

Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia. Inikah waktunya Sabdo Palon Noyo Genggong Nagih Janji..? Wallahua'lam Bissawab. (Red/khauripan)





Jumat, 25 Desember 2020

" SECUIL CINTA "

Suaraposkodualima - Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Al-Ghozali mengkisahkan, “Suatu ketika Nabi Isa lewat di sebuah perkebunan bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyiram tanaman, lalu pemuda itu berkata pada Nabi Isa As., " Mintakanlah kepada Tuhanmu supaya aku diberi rizki berupa mahabbah (cinta) kepada Allah sebesar dzarroh (atom). 

Nabi Isa menjawab,"Seukuran Dzarroh engkau tak akan kuat menerimanya. Pemuda menjawab, "Kalau begitu separohnya saja."

Nabi Isa mengiyakan permintaan pemuda itu beliaupun berdoa, " Ya Alloh berikanlah rizki kepada pemuda ini berupa mahabbah (cinta) terhadap-Mu seukuran separuh dzarroh." 

Selang beberapa lama kemudian Nabi Isa As. lewat lagi ditempat pemuda itu berada, beliau menanyakan kepada masyarakat setempat tentang keberadaan pemuda itu. Mereka menjawab, " Pemuda itu sudah gila,  ia pergi kearah pegunungan."

Kemudian Nabi Isa berdoa kepada Allah agar diperlihatkan tempat dimana pemuda itu berada, usai berdoa dipanjatkan,  Nabi Isa As. melihatnya Ia berada di antara gunung-gunung.

Beliau menemukan pemuda itu dalam keadaan berdiri seorang diri di atas bebatuan keras di puncak dari gunung itu menuju langit,

Nabi Isa mengucapkan salam kepada pemuda itu, namun pemuda itu tidak menjawab salam beliau. Nabi Isa As. berkata, "Saya adalah  Isa."(pemuda itupun juga tidak menjawabnya)

Disaat itu turunlah wahyu kepada Nabi Isa As.,  "Bagaimana bisa dia mendengar omongan orang, sementara dihatinya terdapat rasa cinta kepada-Ku seukuran separuh dzarroh. Demi kemulyaan-Ku dan ke Agungan-Ku andaikan kau potong tubuhnya dengan gergaji dia tak akan mengetahuinya (merasakannya)." [1]

Sudah lama saya berharap agar Tuhan memberikan  secuil Cinta pada bangsa Indonesia. Dengan begitu maka sesama anak bangsa menjadi damai dan tentram. Orang yang hatinya penuh dengan Cinta pada Tuhan, maka dia akan mencintai makhluknya.

Hati yang dipenuhi cinta tidak akan mengumbar kebencian dan kedengkian, lidahnya tidak akan menebar hoax dan nyinyiran. Tidak menyebarkan permusuhan sesama anak bangsa.

Orang yang hatinya penuh dengan Cinta maka tidak akan suka mengkafirkan, membid'ahkan dan menyesatkan orang lain yang berbeda faham keagamaan dan pandangan politik yang berbeda.

Jika hati kita sudah dipenuhi dengan Cinta, maka tidak akan menyebut orang lain dengan sebutan KADRUN dan CEBONG, apalagi menjuluki orang lain dengan sebutan PKI.

Alhamdulillah akhir tahun ini Tuhan mengirimkan Kado yang terindah untuk bangsa Indonesia. Presiden Jokowi menjadikan Prabowo - Sandi lawan politiknya dalam Pilpres kemaren sebagai menteri di dalam kabinetnya.

Jokowi mau merangkul lawan politiknya untuk membangun Indonesia secara bersama-sama. Sedangkan Prabowo-Sandi membuang egonya dan menerima tawaran untuk bersama-sama membangun Indonesia semakin jaya. Jika di dalam hati mereka tidak ada cinta, mustahil mereka mau bersatu dan bekerjasama untuk Bangsa Indonesia.

Sekarang sudah tidak ada lagi antara KADRUN & KAMPRET, Jokowi- Makruf dan Prabowo - Sandi telah bersatu dalam ikatan cinta dan kasih untuk Bangsa Indonesia. Maka sebagai pengikutnya hendaklah kita mencontoh tindakan dan prilaku mereka.

Jangan mau hati kita dijajah dan dikuasai oleh kebencian dan kedengkian, karena akan merusak diri kita dan kerukunan  bangsa Indonesia. Tiada derita yang tidak pernah berakhir kecuali derita Kebencian dan Kedengkian.

Kami mungucapkan Selamat atas Kelahiran Yesus (Nabi Isa), semoga semua makhluk penuh dengan cinta kasih dan berbahagia.

"Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu untuk mencinta-Mu dan mencintai orang yang mencintai-Mu. Juga cinta kepada amal yang bisa mendekatkanku pada cinta-Mu." (HR. At-Tirmidzi)

~ Secuil Cinta ~

Oleh : Idham Huri

Suaraposkodualima 

Senin, 22 Juni 2020

Sangkan Paraning Dumadi Spiritual Jawa.


Suaraposkodualima - Jawa tidak sekedar surganya tradisi dan budaya. Lebih dari itu, Jawa juga merupakan surganya filsafat. Hal ini dibuktikan dengan salah satu ajaran leluhur Jawa yang dirumuskan dalam konsep sangkan paraning dumadi.

Sekilas, sangkan paraning dumadi tidak lebih dari sekadar pandangan Kejawen yang membicarakan asal-usul dan tujuan segala sesuatu yang ada di dunia. Namun jika kita hayati, ‘sangkan paraning dumadi’ tidaklah sesederhana itu. Konsep tersebut merupakan ajaran spiritualitas yang menggambarkan kedalaman religiusitas.
.
Bagi orang Jawa, kehidupan duniawi hanyalah sebentar, ibarat mampir ngombe. Kehidupan yang hanya sebentar itu bukanlah cita-cita final orang Jawa. Oleh karena itu, kehidupan haruslah dihayati sebagai proses mencapai kesempurnaan. 

Orang jawa menyebutnya dengan ngudi kasampurnan. Proses untuk mencapai kesempurnaan itu tidaklah mudah. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk mencapainya. Salah satu syaratnya adalah mengenali titik tumpu yang sekaligus titik tuju kebaradaannya sendiri. 

Hal ini dilakukan dengan cara mengetahui asal-muasal serta tujuan keberadaan manusia dan alam semesta. Dalam pandangan Kejawen, alam semesta ini diliputi oleh esensi Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempurna atau Yang Absolut. 
Esensi itu ada yang menyebutnya dengan Hyang Widi, Gusti, Tuhan, Allah atau yang lainnya, namun orang Jawa lebih suka menyebutnya sebagai "Ono Tan Kinoyo Ngopo". 

Dia merupakan sangkan-paran atau asal-muasal serta tujuan dari alam semesta dan manusia. Terkait asal-muasal manusia, orang Jawa berpandangan bahwa, eksistensi manusia merupakan perpaduan antara entitas material (wadah/badan) dan spiritual (sukma/roh). 

Wadah atau badan manusia berasal dari empat unsur: api, tanah, air dan udara. 
Keempat unsur tersebut juga terdapat dalam alam semesta. Sekilas pandangan di atas mirip dengan pandangan filosof René Descartes (1598-1650), bahwa eksistensi manusia terdiri dari badan dan jiwa. Begitu juga tentang unsur pembentuk alam semesta, sangat mirip dengan pandangan filosof Empedocles (495-435). 

Menurutnya, alam semesta tidaklah dibentuk oleh unsur tunggal, melainkan oleh empat akar (rizhomata), yaitu api, tanah, air dan udara. Namun, jika dicermati lebih lanjut, konsep manusia dalam pandangan Jawa sungguh sangat berbeda dengan pandangan kedua filosof tersebut. 

Dalam pandangan Jawa, badan dan roh tidaklah bersifat dualistis seperti yang dibayangkan Descartes. Hal ini dikarenakan sebelum terlahir ke dunia sebenarnya merupakan entitas tunggal. Entitas itu yang disebut dengan ‘pancer’.
Pancer merupakan entitas purba pembentuk empat anasir, yaitu api, tanah, air dan udara. Sedangkan jiwanya akan menjelma menjadi sedulur papat. 

Dengan begitu, unsur material api, tanah, air dan udara bukanlah kenyataan final seperti yang disangka oleh Empedocles, melainkan kenyataan kedua yang berasal dari pancer. Itulah sebabnya, orang Jawa sejak dahulu kala memiliki pengetahuan tentang sedulur papat limo pancer.

Selain itu, orang Jawa juga meyakini bahwa keberadaan manusia di dunia merupakan kehendak-Nya, namun bukan keberadaan yang sudah jadi. Keberadaan manusia dibentuk melalui rangkaian proses dan prosedur yang telah ditetapkan oleh-Nya, yaitu hubungan cinta kasih orang tua.  

Sehingga, orang tua merupakan unsur sakral yang harus dihormati. Bahkan dalam salah satu pasal kitab Tata Pugeraning Urip, manusia dianjurkan untuk selalu ingat kepada orang tua (Pranowo, 2000: 108).
.
Penghormatan terhadap orang tua ini juga tercermin dalam sebagian tradisi Jawa dalam bentuk jenang abang dan jenang putih. Keduanya merupakan simbol dari cahya abang dan cahya putih yang menjadi asal-muasal manusia dalam proses penciptaan. Cahya abang berasal dari hembusan biyung (ibu) dan cahya putih dari bapa (ayah).

Setelah lahir ke dunia, kedua orang tua merawatnya. Ia diberi berkesempatan untuk memelajari pengetahuan, juga hidup bersama masyarakat dan lingkunannya. Hal itu dilakukan agar manusia mendapatkan bekal dalam proses perjalanan hidup yang disebut sebagai cakra manggilngan.

Meski mungkin berlangsung lama, namun proses tersebut bukan merupakan final. Semua proses itu tak lain hanyalah jalan agar manusia mencapai entitas tertingi yang menjadi asal-muasalnya. Kelak, entitas tertinggi itulah tempat serta tujuan manusia dan segala keberadaan akan kembali. 

Oleh karena itu, dia juga disebut sebagai paraning dumadi. Konsep paraning dumadi ini, sekaligus menggambarakan pandangan hidup orang Jawa, bahwa kehidupan manusia tidak hanya berlangsung di dunia, namun juga sebelum dan sesudahnya. 

Awalnya, manusia berada pada alam purwa. Setelah itu, ia akan singgah sebentar di dunia (alam madya), kemudian melanjutkan perjalanan menuju alam wasana, yaitu alam setelah kematian.

Kehidpupan di alam madya berlangsung singkat dan sementara, urip mung mampir ngombe istilahnya. Ungkapan ini juga menandakan bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan tidak langgeng. 

Hidup di dunia tidak lain merupakan persinggahan, sebelum akhirnya berlabuh kembali ke di alam keabadian. Inilah yang menjadi tujuan hidup dan cita-cita tertinggi orang Jawa.

Dalam praktiknya, sangkaning dumadi dan paraning dumadi tak dapat dipisahkan. Dalam konsep sangkaning dumadi, terselip keyakinan tentang adanya entitas tertinggi yang menciptakan segala wujud di dunia. 

Sedangkan dalam konsep paraning dumadi, terselip keyakinan bahwa, kelak entitas tersebut juga menjadi tujuan dan tempat kembali. Karena itulah, kedua konsep itu seringkali disatukan dan dirumuskan dalam ungkapan sangkan paraning dumadi.

Hal ini selaras dengan pandangan metafisika Jawa tentang proses kehidupan yang terjadi dalam lima tahap. Proses-proses tersebut adalah asaling dumadi, sangkaning dumadi, purwaning dumadi, tataraning dumadi dan terakhir paraning dumadi. Setelah melalui kelima proses ini, manusia akan menemukan kenikmatan tiada tara, yaitu saat terjadi peristiwa sengseming kerongkong (Sastroamidjaja, 1972).

Namun tak semua orang bisa merasakan keadaan ini. Setiap orang akan memetik sesuatu sesuai yang ia tanam. Orang yang berbuat kebaikan akan menemukan karmapala padhang. Sebaliknya orang yang berbuat durjana akan menemukan karmapala pêtêng. Yang terakhir ini, menandai bahwa selama perjalanan hidupnya, seseorang tidak mengikuti tuntunan Dzat Sejati.

Oleh karena itu, orang Jawa senantiasa berusaha menjalankan kewajiban yang telah dititahkan oleh Pencipta, yaitu menjalani hidup dengan baik dan benar. Kewajiban ini kemudian dirumuskan dalam ungkapan mamayu hayuning bawana (memelihara kebaikan dunia). 
Kewajiban itu hanya bisa terlaksana jika dilandasi dua rasa asih ing sasami dan sepi ing pamrih, rame ing gawe.(Red/Damar Kamulyan)

Minggu, 08 September 2019

Tari Sanghyang Tarian Sakral Dari Pulau Bali.

Suaraposkodualima - Tari Sanghyang adalah salah satu seni tari Bali yang termasuk dalam kelompok tari upacara atau tari wali. Sebuah kesenian kuno yang dikatakan sebagai peninggalan dari kebudayaan pra-Hindu. Di Bali, tari ini lebih banyak ditemukan dalam lingkup masyarakat pegunungan bagian utara dantimur.

Sanghyang adalah sebuah tarian sakral yang berfungsi untuk menolak bala' (kesialan atau malapetaka). Tari ini disajikan dengan melibatkan seorang penari atau lebih dalam keadaan kerawuhan atau tidak sadarkan diri karena kemasukan roh suci atau juga roh binatang yang dipuja.

Masyarakat Bali sangat menyakini bahwa pada kisaran sasih kelima dan sasih keenam dalam penanggalan Bali, Ratu Gede Mecaling dengan wujud-wujud menyeramkan bergentayangan di Bali.
Ia datang untuk menyebarkan bencana penyakit pada penduduk desa, tanaman dan binatang. Untuk menaggulanginya, masyarakat mengadakan upacara “Nangiang Sanghyang” sebagai upaya memohon perlindungan.

Tari Sanghyang bisa dikatakan sebagai jalan komunikasi spiritual antara masyarakat Bali dan alam gaib. Ketika merujuk pada buku yang disusun  I Made Bandem,Kaja And Kelod (1981) dan Ensiklopedi Tari Bali (1983), disebutkan tari ini terkait dengan Tuhan.

Oleh karena itu disajikan dengan diawali upacara menggunakan dupa atau kemenyan, nyanyian, serta doa-doa. Apabila permohonan dikabulkan, penari menjadi kerawuhan karena kemasukan Hyang yang turun ke bumi untuk menyelamatkan manusia.

Bisa disimpulkan, bahwa Tari Sanghyang juga sebagai sebutan penghormatan yang ditujukan kepada dewa, leluhur, serta roh suci dewa-dewi, roh binatang atau apapun yang dimuliakan oleh masyarakat Bali.(Red/Niluh Ishanori)

Sabtu, 07 September 2019

Mengintip Ritual Tari Seblang Masyarakat Osing Banyuwangi.

Suaraposkodualima - Banyuwangi dikenal kaya akan adat tradisi budaya yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah tradisi unik penuh mistis yang digelar warga sebagai keperluan bersih desa dan tolak bala' agar Desa tetap aman dan tentram yakni, tari Seblang.

Seblang pada dasarnya adalah tarian khas suku Osing, Banyuwangi. Tari Seblang merupakan tradisi yang sudah cukup tua sehingga sangat sulit dilacak asal usul dimulainya. Namun menurut catatan, penari Seblang pertama yang diketahui bernama Semi yang juga merupakan pelopor tari Gandrung pertama (meninggal tahun 1973). Ada kemiripan antara Tari Seblang dengan ritual tari Sintren di Cirebon dan ritual Sanghyang di Pulau Bali.

Masyarakat Osing sebagai suku asli Kabupaten Banyuwangi mempercayai Seblang merupakan singkatan dari “Sebele Ilang” atau “sialnya hilang”. Tradisi Seblang ini dilakukan di dua Desa. Selain di Desa Bakungan, tarian Seblang juga digelar di Desa Olehsari yang juga berada di wilayah Kecamatan Glagah.

Para penari Seblang dipilih secara supranatural oleh dukun setempat, dan biasanya penari harus dipilih dari keturunan penari seblang sebelumnya. Ada perbedaan yang signifikan antara tarian seblang yang ada di Desa Olehsari dengan tari seblang yang ada di Desa Bakungan. Yang membedakan adalah waktu pelaksanaan dan yang menarikannya.

Tari Seblang di Desa Olehsari dibawakan oleh wanita muda yang belum akil baliq atau belum menstruasi dan dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut setelah hari Raya Idul Fitri. Sedangkan di Desa Bakungan, ritual Tari Seblang digelar satu minggu setelah Hari Raya Idul Adha dan dibawakan oleh penari wanita yang usianya 50 tahun ke atas yang telah mati haid (menopause) dan dilakukan semalam suntuk di Balai Desa Bakungan.
Alat musik yang mengiringi tarian Seblang di desa Bakungan hanya terdiri dari satu buah kendang, satu buah kempul atau gong dan dua buah saron. Sedangkan di Desa Olehsari ditambah dengan biola sebagai penambah efek musikal. Tidak hanya pada sang penari dan waktu pelaksanaan ritual, dari segi busana pun, tari seblang di Desa Olehsari dan desa Bakungan memiliki perbedaan yang terletak pada Omprok atau mahkota sang penari.

Omprok yang dipakai oleh penari Seblang di Desa Olehsari biasanya terbuat dari pelepah pisang yang disuwir-suwir hingga menutupi sebagian wajah penari, di bagian atasnya diberi bunga-bunga segar yang biasanya diambil dari kebun atau area sekitar pemakaman, dan ditambah dengan sebuah kaca kecil yang ditaruh di bagian tengah omprok.

Sedangkan omprok atau mahkota yang digunakan oleh penari seblang di Desa Bakungan sangat menyerupai omprok yang dipakai dalam pertunjukan Gandrung, hanya saja bahan yang dipakai terbuat dari pelepah pisang dan dihiasi bunga-bunga segar meski tidak sebanyak penari seblang di Desa Olehsari.

Tari Seblang merupakan bentuk budaya tradisional ciri khas masyarakat Banyuwangi, warga percaya jika tidak melakukan tradisi Seblang ini akan mendapatkan musibah. Ritual Seblang yang terkenal magis, dibawakan seorang penari perempuan yang masih perawan (belum menstruasi) dalam keadaan tidak sadar alias kesurupan atau disebut kejiman, dalam bahasa lokal.

Tarian ini digelar selama satu minggu penuh. Penarinya pun tidak sembarangan. Dia harus kerasukan roh yang dipilih sendiri oleh leluhurnya. Proses masuknya roh leluhur juga harus diiringi puluhan lantunan suara gending. Diawali dengan Gending Lukito, yaitu sebuah gending yang dipercaya masyarakat setempat sebagai cara memanggil kekuatan gaib arwah leluhur untuk hadir ke tengah ritual Seblang.

Setelah si penari kerasukan, pada hari ketujuh, Seblang akan diarak keliling Desa atau dalam istilah lain disebut 'ider bumi' bersama pawang, sinden, dan seluruh perangkat menuju empat penjuru. Mulai dari Situs Mbah Ketut, Lahan Petahunan, Sumber Tengah, dan berakhir di Balai Desa setempat.

Gamelan pengiring Seblang terdiri dari sebuah kendang, kempul atau gong, saron dan biola tiada hentinya mengiringi ritual, menambah kesan mencekam yang membuat bulu kuduk merinding. Aroma mistis memang identik dengan Tarian Seblang di Desa Olehsari. Warga percaya, jika tidak melakukan ritual tari Seblang, menurut kepercayaan warga setempat bakal 1diterpa musibah.(Red/Khauripan)

Sabtu, 31 Agustus 2019

Jadilah Ibrahim Jangan Engkau Menjadi Namrud.

Suaraposkodualima - Ketika kebenaran Nabi Ibrahim telah tampak  dan alasan mereka kalah dalam debat tauhid, maka Raja Namrud memerintahkan kaumnya mengumpulkan banyak kayu bakar, untuk membakar  Nabi Ibrahim. Mereka meletakkan kayu bakar itu dalam sebuah parit dan menyalakan api di dalamnya hingga menyala besar, lalu mereka melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam keadaan terikat ke dalam api.

Saat itu menurut  riwayat yang bersumber Dari Ibnu Abbas Nabi Ibrahim berdoa:
“Cukup bagiku Allah, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.” (Hr.Bukhari)

Maka Allah Ta’ala pun menyelamatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan menjadikan api itu dingin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim,“ (QS. Al Anbiyaa’ :69)

Kisah di atas secara maknawi adalah jika kita dihina dan dicaci maki, difitnah itulah simbol kayu bakar untuk bahan bakar atau provokasi, maka jangan sampai kita juga ikut terpancing sehingga kita memaki dan menghina orang yang mendholimi kita.

Akan tetapi netralkan semua caci maki dan hinaan itu dengan membaca doa: “Cukup bagiku Allah, dan Dialah sebaik-baik  Pelindung.”

Dengan mengingat dan fokus kepada Allah hati kita tidak terpancing dan terprovokasi, jiwa tidak bergejolak, darah tidak mendidih, hati tidak kecewa sedikitpun. Orang yang mengingat Allah itu jiwa dan hatinya menjadi tenang dan tentram. Semua hujatan dan fitnah itu menjadi netral dan dingin, sehingga tidak menyebabkan hati menjadi marah terbakar.

Untuk itu jika anda tidak berbuat salah pada orang lain, lalu didholimi oleh orang lain dengan cara difitnah, dihina dan dicaci maki, maka abaikan saja jangan dibalas dengan cacian, melainkan balaslah dengan doa kebaikan kepada mereka, minimal memberikan klarifikasi yang benar.

Semua bentuk fitnah dan caci hina itu adalah sebuh proses pembersihan diri. Maka beruntunglah, dosanya sedang dilunturkan oleh Allah melalui ujian hidup yang sedang dialami dan dirasakan.

Akan tetapi jika kita membalasnya dengan cacian dan hinaan juga, maka kita telah terprovokasi menjadi panas hatinya dan terbakar, akhirnya jiwa dan hati kita hitam hangus terbakar.

Fitnah dan caci maki yang kita  terima termasuk salah satu pembersihan jiwa jika kita menerimanya dengan ihklas dan legowo. Itulah jalan atau tarekat para Nabi yang selalu dimaki, dihina dan difitnah, sehingga mencapai derajat yang mulia.

Nabi Ibrahim dalam kisah di atas adalah simbol hati nurani yang ada di dalam diri setiap  manusia yang selalu mengarahkan kedamaian, ketenangan, kebaikan, pemaaf, penyabar dan welas asih.

Sedangkan Namrud itu simbol hawa nafsu yang ada dalam setiap manusia yang selalu menyuruh dan bersifat kasar, dholim, sombong, pemarah, benci, dengki, suka menghina, mencaci, menfitnah orang lain.

Bagi pejalan ruhani jika ingin wushul (sampai) kepada Allah, maka jadilah Ibrahim yang selalu mengikuti hati nuraninya, selalu menjaga kesucian dan kebersihan hati dan jiwa. “(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS. ash-Shaffat: 84). Semoga jiwa kita semuanya semakin bercahaya.(Red/Akha)