Suaraposkodualima

Senin, 10 Mei 2021

Menelusuri Jejak Munarman Dilingkaran Terorisme.

Gambar : Munarman, Mantan Sekretaris Umum Ormas Terlarang Front Pembela Islam. 

Suaraposkodualima - Baru-baru ini jagad sosial media dihebohkan dengan berita penangkapan Munarman, Eks Sekretaris Umum ormas terlarang Front Pembela Islam (FPI). Pengacara dari imam besar FPI, Muhammad Rizieq Syihab itu dijemput tim Detasemen khusus anti-teror Polri (Densus 88) di kediamannya di perumahan modern Hills, Cinangka, Pamulang, Tangerang Selatan Selasa (27/4/21) pukul 15.30 WIB. Pria berusia 52 tahun itu ditangkap lantaran diduga kuat memiliki keterlibatan dengan tindak pidana terorisme.

Berdasarkan keterangan yang ada, Munarman ditengarai turut ambil bagian dalam rencana jahat untuk melancarkan aksi terorisme. Ia juga diduga kuat menjadi aktor intelektual yang menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, termasuk ikut melakukan bai’at (sumpah setia) pada organisasi teroris ISIS di tiga tempat, yakni di Jakarta, Medan dan Makassar. 

Munarman juga dianggap tak kooperatif, ia dengan sengaja menyembunyikan Informasi tentang tindak pidana terorisme dari aparat kepolisian, padahal namanya santer disebut oleh sejumlah terpidana terorisme yang berhasil dibekuk aparat.

Keterlibatan Munarman dalam lingkaran terorisme mulanya diungkap oleh terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Ahmad Aulia. Ia menuturkan jika prosesi  bai’at berlangsung di markas FPI Makassar yang berada di Jalan Sungai Limboto. Saat itu prosesi bai’at dihadiri oleh kurang lebih 100 orang anggota FPI, termasuk dihadiri sejumlah tokoh pengurus FPI, salah satunya adalah Munarman.

Beberapa waktu sebelum diciduk Aparat, Munarman memang santer dikabarkan memiliki keterkaitan dengan Kelompok teroris ISIS, terutama terkait kasus Bai’at eks FPI kepada kelompok teroris ISIS di tiga kota. Namun Munarman selalu menyangkal ketika ditanya mengenai persoalan itu. 

Munarman mulai terpojok kala video kegiatan bai’at ISIS yang dihadirinya viral dan jadi bahan pembincaraan hangat dimedia sosial beberapa waktu lalu. Dalam tayangan yang ada, terlihat Munarman hadir ditengah-tengah kegiatan bai’at bersama sejumlah orang yang diduga anggota FPI simpatisan ISIS.

Dalam tayangan “Mata Najwa” yang di siarkan disalah satu stasiun televisi swasta, Munarman mengungkapkan jika ia hanya diundang sebagai pemateri dalam seminar. Ia tak tahu menahu jika akan ada prosesi bai’at kepada ISIS di markas FPI Makassar. 

Munarman menuturkan jika ia hanya memaparkan materi seputar wawasan geopolitik, termasuk tentang dugaan rekayasa terorisme Amerika Serikat. Sesekali ia terlihat emosional saat ditanyai seputar peristiwa bai’at yang ia hadiri. Beberapa kali ia pun terlihat gelagapan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh presenter Najwa Shihab.

Sementara itu, di waktu yang sama, usai penangkapan Munarman, tim Densus 88 antiteror Polri juga menyita beberapa botol yang berisi nitrat jenis aseton dari penggeledahan bekas markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat.

Tentu saja peristiwa penangkapan Munarman ini menuai pro dan kontra publik tanah air. Ada yang tak setuju ia ditangkap, namun ada juga yang mendukung dan berpendapat jika penangkapan ini sudah sesuai dengan hukum yang berlaku. Hal itu disebabkan oleh tingginya urgensi pemberantasan terorisme di Indonesia, sehingga siapapun yang terlibat gerakan terorisme harus segera diamankan guna meredam aksi-aksi terror yang marak terjadi di tanah air.

Dilain sisi, sejumlah pihak mempertanyakan mengapa Munarman bisa hadir ditengah acara bai’at? Jika memang ia tak tahu menahu, mengapa ia tak pergi saja dari tempat duduknya kala prosesi bai’at berlangsung? 

Orang normal tentu akan pergi meninggalkan tempat kejadian apabila ia merasa kegiatan yang ada dihadapannya sudah menyalahi aturan hukum.. mengapa Munarman tak bergeming dan memilih diam ditempat hingga prosesi bai’at berakhir? Tentu saja hal itu semakin menguatkan dugaan jika Munarman sebenarnya tahu banyak informasi seputar kegiatan bai’at ISIS di markas FPI yang dihadirinya.

Semestinya pihak Munarman tak perlu takut dan risau apabila memang tak bersalah. Sebab ada proses peradilan yang pada akhirnya akan dibuktikan di pengadilan. Sudah sewajarnya bila semua pihak terkait menghormati proses hukum yang sedang berjalan. 

Mari sama-sama kita nantikan sejauh mana penelusuran aparat penegak hukum membongkar jejak Munarman dan ormas kebanggaan nya itu dalam pusaran terorisme. Biarlah waktu yang menjawab semuanya, Tentu kalian yang masih waras dapat menilainya sendiri, siapa mereka-mereka yang terlibat dalam gembong terorisme itu.

Mari dukung dan apresiasi langkah pemerintah beserta seluruh aparat kepolisian yang selama ini sudah berjibaku memberantas terorisme beserta jaringannya, Langkah mereka tentu tak mudah, namun bersama-sama, pasti suatu hari nanti terorisme akan lenyap selama-lamanya dari bumi Indonesia. Mari rapatkan barisan. Jangan biarkan pemahaman radikal teroris tumbuh subur di negeri yang kita cintai ini, tumpas sampai ke akarnya. (Red/akha)

Sumber : AllIndonesianLivesMatter