Suaraposkodualima - Banyak beredar pesan singkat melalui aplikasi Whatsapp yang mengatakan bahwa saat ini Indonesia, Malaysia dan beberapa Negara lain sedang mengalami gelombang panas.
Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut adalah hoaks atau tidak benar.
"Pasti hoaks ini. Kita baru saja mau selesai musim hujan dan memasuki musim kemarau, memang jelang musim kemarau umumnya ada peningkatan suhu udara permukaan, tapi masih pada kisaran normal (tidak ekstrem)," tegasnya.
Siswanto juga mengatakan, peningkatan suhu panas tersebut bersifat siklus sebagai fluktuasi dalam variasi suhu bulanan dalam setahun. Suhu di Indonesia pada bulan April - Mei normalnya berkisar antara 23 - 29°C.
"Untuk masyarakat yang tinggal di DKI Jakarta, suhu terasa panas pada siang hari terutama pada bulan April-Mei lalu kembali berulang pada Oktober-November. Suhu akan menurun pada bulan Desember - Maret. Demikian berulang pada periode berikutnya," kata Siswanto.
Siswanto juga menjelaskan, sementara bagi masyarakat yang tinggal di Semarang ada sedikit perbedaan pola kenaikan suhu panas secara gradual (sedikit demi sedikit atau bertingkat). Suhu maksimum siang hari di Semarang agak berbeda sedikit polanya, yaitu secara gradual naik mulai April hingga puncaknya di September-Oktober nanti.
Penyebab cuaca Jogja panas, Kepala Kelompok Analisa dan Prakiraan Cuaca BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Sigit Hadi Prakosa juga menegaskan bahwa pesan singkat tersebut adalah hoaks atau tidak benar. Sigit juga mengimbau agar pesan singkat tersebut tidak disebarluaskan karena bisa menimbulkan kepanikan.
"Hoaks, jangan direspons, sumber bukan dari kami BMKG. jika dicek ke data tidak nyambung, tolong jangan disebarkan," tegas Sigit.
Sigit mengatakan, terkait dengan info yang mengatakan saat ini Indonesia sedang dilanda gelombang panas menurutnya sangat menyesatkan. Sebab, menurutnya Indonesia tidak pernah dan tidak akan terkena gelombang panas seperti yang pernah terjadi di Eropa.
"Berdasarkan data historis kisaran suhu maksimum yang pernah terjadi di DIY 36 - 37 derajat celcius. Ini adalah hoaks (soal gelombang panas) lama yang kembali dimunculkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab agar menimbulkan keresahan di masyarakat," katanya.
Sementara itu terkait cuaca panas yang akhir-akhir ini terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di Jogja, Sigit menjelaskan bahwa pada April ini posisi matahari berada di belahan bumi Utara.
Posisi ini menurutnya relatif lebih jauh dari Jogja dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Akibat kondisi ini sudut datangnya sinar miring dan intensitas matahari lebih kecil dibandingkan Maret.
"Kondisi yang seakan panas dirasakan pada siang hari adalah faktor cuaca cerah sehingga tidak ada/sedikit awan yang menghalangi masuknya sinar matahari ke bumi. Catatan suhu maksimum dalam beberapa hari terakhir ini masih dalam kisaran normal yaitu 31 - 32 derajat celcius. Panas yang dirasakan juga karena faktor kelembaban udara minimum yang rendah yaitu berkisar 55 - 60 persen," ujarnya. (Red/akha)




