Suaraposkodualima

Kamis, 11 Februari 2021

Ferdinand Hutahaean : Aku Memilih Jadi Buzzer Kebenaran.

Aku Memilih Buzzer Kebenaran.

Oleh : Ferdinand Hutahaean.

Analis Sosial Politik

Kalau kita mencoba mencari arti atau makna kata buzzer, kira-kira artinya adalah, orang yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyatakan suatu kepentingan. Buzzer dapat bergerak sendirian untuk menyatakan sesuatu, atau bisa juga berkelompok. Buzzer dalam menyuarakan kepentingan bisa menggunakan identitas resmi atau juga secara anonim. 

Kira-kira begitulah makna buzzer yang mudah dipahami dan hal seperti ini menjadi sesuatu yang biasa didunia media sosial. Tujuanya jelas untuk mempengaruhi opini ditengah publik agar siapa saja yang mendengarnya, membacanya menjadi percaya dengan opini yang dibangun sebagai kepentingan dan sebagai tujuan.

Hari-hari terakhir ini, jagad publik pemberitaan dan media sosial sedang ramai memperbincangkan tentang buzzer. Matinya ormas FPI dan HTI yang selama ini meramaikan jagad media sosial tampaknya mempengaruhi penyampaian opini dari para buzzer yang menyerang pemerintah, baik menyerang Presiden Jokowi secara pribadi maupun pemerintahannya dan para menterinya. Saya menyebut mereka buzzer fitnah. Buzzer caci maki dan buzzer hoax yang digabungkan menjadi buzzer kejahatan.

Isu tentang buzzer ini telah ramai menjadi perbincangan, namun beberapa hari terakhir semakin ramai sejak lidah para tokoh mulai digunakan untuk menyerang Pemerintahan Presiden Jokowi sebagai sebuah rezim otoriter yang gemar memenjarakan pelaku kritik. Sebagai beberapa contoh misalnya Kwik Kian Gie yang menyatakan lebih takut mengkritik era sekarang disbanding era Soeharto. 

Yang entah logika mana digunakan Kwik berbicara seperti ini karena semua tau beberapa sahabat Kwik di PDI dulu hilang diculik karena mengkritik. Susi Pudjiastuti mantan Menteri Kelautan dicuitan Pak Jokowi tentang Vaksinasi Covid dengan kegenitan politiknya mengomentari dengan kalimat meminta Presiden Jokowi menertibkan ujaran kebencian, tidak nyambung dan seolah ujaran kebencian itu atas perintah Jokowi sehingga harus memintav Jokowi menertibkannya. 

Budayawan Sudjiwo Tedjo juga dalam cuitannya bicara tentang agar Jokowi menertibkan buzzer, entah siapa yang dia maksud dengan kata buzzer dan entah mengapa harus meminta Jokowi yang menertibkannya. Ditambah lagi aktivis YLBH bicara yang sama dan masih ada lidah-lidah lain yang membangun opini seolah Jokowi anti kritik, otoriter dan tukang penjarakan pengkritik. 

"Hahahahaha rasanya ingin menertawakan mereka yang tidak melihat setiap hari fitnah, hoax, caci maki, ujaran kebencian dan juga kritik berseliweran diruang publik".

Dengan kenyataan itu, tampaknya merekalah yang sungguh anti kebebasan, anti demokrasi dan anti perbedaan pendapat. Mereka kaum egois yang hanya ingin berbicara tapi tak mau mendengar. Mereka boleh bicara yang lain tak boleh makanya harus disuruh diam. Mereka bebas bicara apa saja tanpa boleh didebat. Padahal jelas Presiden Jokowi meminta rakyat mengkritik kebijakannya sebagai bahan evaluasi. Hanya masalahnya, tampak kelompok oposan plastik ini tak mampu membedakan mana narasi kritik dan mana narasi caci maki.

Jadi jelas sekarang, ini eranya perang kebenaran melawan kejahatan fitnah, hoax, caci maki dan ujaran kebencian. Dan saya memilih berdiri sebagai buzzer kebenaran, menyampaikan kebenaran dan melawan kejahata n yang disebar oleh buzzer kejahatan. Sekarang eranya perang Buzzer kebenaran vs Buzzer Kejahatan, dimana anda akan berdiri?(Red/khauripan)