Suaraposkodualima

Kamis, 20 Januari 2022

Makna Dan Rasa Disetiap Tulisan.

Suaraposkodualima - Setiap tulisan mengandung makna, setiap makna mengandung rasa. Tergantung rasa si penulis, ada rasa suka, duka, kebencian, ada rasa halus dan rasa kasar. Jadi tergantung kepribadian dan kondisi jiwa masing-masing saat menulis.

Dalam tulisan itu mengandung enerji dari penulisnya, apalagi ketika menulis memang betul murni dari pikiran dan perasaannya, sehingga sebuah tulisan bisa juga mewakili kondisi penulis saat itu.

Seseorang menulis tentang kebencian, lalu yang membaca juga sama-sama membenci, maka antara pembaca dan penulis mempunyai frekwensi yang sama, sehingga bisa menyambung dan merasakan mempunyai gagasan dan ide bersama, terasa nyaman.

Akan tetapi jika yang membaca tersebut tidak memiliki kesamaan dalam sebuah gagasan, maka yang ada justru permusuhan dan saling benci juga, karena antara penulis dan yang membaca kontradiksi, sehingga yang muncul rasa ketidak nyamanan.

Dalam dunia perfesbukan, per whatsappan setiap orang mempunyai hak untuk menulis apa yang dipikirkan, tapi ingat setiap tulisan itu juga akan kembali kepada diri kita. Jika kita menulis tentang sebuah kebaikan, maka kebaikan tersebut akan kembali kepada diri kita, jika kita menulis tentang kejelekan, maka kejelekan itu akan kembali kepada diri kita. 

Jika kita menulis tentang ujaran kebencian, lalu yang berkomentar dan yang mendukung sangat banyak, maka enerji negatif dari setiap jiwa berkumpul menjadi satu, sehingga menyebabkan frekwensi kebencian dalam diri kita semakin besar.

Tanpa kita sadari kita sering terkena polusi dari sebuah tulisan, jika sebuah kebencian dan kemarahan menumpuk dalam jiwa kita, maka akan merusak jiwa dan pikiran kita sendiri, dan jika dibiarkan terus menerus, maka akan menyebabkan munculnya penyakit dalam tubuh kita.

Misalnya penyakit jantung, lambung dan  stres. Efek psikologinya, kita akan sering marah sendiri tanpa ada sebab, munculnya  rasa gelisah dan resah. Mudah tersinggung dan salah faham ketika mendengarkan omongan orang lain.

Menyimpan sebuah rasa kebencian dan kemarahan itu merusak diri kita sendiri, lalu bagaimana cara membuangnya atau melampiaskannya. Yang paling bagus adalah bagaimana caranya kita mengelola sebuah kebencian dan kemarahan dengan cara menyalurkan kegiatan yang positif.

Jangan sampai kita rusak jiwa dan fisik ini dengan enerji yang negatif. Ingat setiap tulisan itu mengandung rasa, dan anda akan merasakan tulisan ini. Semoga yang membaca tulisan ini hatinya menjadi bahagia. (Red/Akha)