"Melepas penat, butuh refreshing, sudah setiap hari bekerja, anak di rumah terus kasihan, jadi cari suasana baru. Ini tujuannya bukan ke tempat wisata, cuma jalan-jalan nyari suasana yang nyaman dan sejuk, tapi kami sekeluarga tetap mengedepankan protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah", katanya.
Soalnya di sini (Batu) kan enak, sejuk, tempatnya nyaman, adem, enak buat menghilangkan kejenuhan bersama keluarga, ia mengaku tidak khawatir dengan penularan virus corona, asal kita selalu jaga jarak, memakai masker, juga hand sanitizer selalu kita bawa physical distancing, lanjut Prameswati, ketika ditanya alasannya datang ke Batu.
Kejenuhan juga dirasakan Rasta, putri berusia 11 tahun, siswi sekolah dasar kelas V ini selama beberapa bulan terakhir harus menghabiskan waktu di rumah, bahkan belajar di rumah, karena sekolah ditutup selama pandemi corona.
"Sudah bosan, jenuh gitu, belajar terus di rumah, belajar juga kurang mengerti bosan banget di rumah," ujar Rasta setengah berbisik.
Meski sebagian tempat rekreasi sudah beroperasi kembali, namun kebiasaan menjaga jarak yang selama ini sudah dilakukan akan menimbulkan tren terbaru dalam hal pariwisata. Karena masyarakat menginginkan keamanan dan kenyamanan termasuk dalam hal berwisata, menghilangkan kejenuhan.
Menetap di luar kota selama beberapa hari juga bisa jadi pilihan. Tentunya juga bisa menyumbang pemasukan pariwisata domestik dengan mengunjungi serta bermain di fasilitas yang telah disiapkan dari pengelola hotel, cara ini justru akan terasa lebih aman dan nyaman.
"Jadi wajar, manusia kan betul-betul tidak bisa dikurung. Di samping karena dia makhluk individu, sekaligus makhluk sosial yang ingin dihargai atau menghargai orang lain atau ingin mengaktualisasikan dirinya," kata Elly saat dihubungi suaraposkodualima melalui WhatsApp Minggu (4/4/21). (Red/khauripan)






