Lebaran tinggal menghitung hari. Sebelum mudik ke rumah mertua, seperti biasa, saya mengecek status segala sesuatu keperluan lebaran. Kue-kue ada, stoples, nampan, piring-gelas, sudah bersih siap digunakan. Gorden sudah oke. Baju untuk ibu, tersedia meski tidak gress baru, sendal ready. Mukena beres. Ibu punya satu mukena yang istimewa hanya dipakai saat sholat ied, rasanya semuanya sudah 100% siap.
Sekadar memastikan, saya bertanya pada ibu. "Ibu pengen dibelikan apa, gamis atau yang lain?"
"Enggak, nggak usah, sergah ibu, gamis ibu masih ada, masih bagus nggak usah beli lagi."
Trus mau apa, sendal, tanya saya lagi. Ibu menggeleng, nggak usah masih ada. "Lha trus?" kejar saya.
"Hmmm ... anu, ibu menatap saya beberapa detik dengan canggung. Belikan kutang saja ya, kutang ibu sudah jelek-jelek wis amoh-amoh malah."
Dziegg,,, seperti ada godam yang mengetuk kepala saya dengan telak. "Kutang, Bu?"
Pertanyaan saya mendadak terdengar bodoh di telinga saya sendiri. Saya dengar dengan jelas barusan ibu bicara apa. Mengulang pertanyaan yang saya sudah paham adalah reaksi spontan saya yang sebenarnya adalah pengalihan imbas makjlebnya keluhan ibu.
Ya, rasanya saya baru tersadar, saya tinggal bersama ibu setiap hari membersamai beliau. Sok-sokan saya menganggap saya sudah memenuhi semua keperluan beliau. Nyatanya, saya abai. Ada keperluan ibu yang meski tidak cetha mela-mela ketok mata, harusnya saya tetap paham. Toh saya perempuan yang sama butuh kutang juga. Kok ya ndadak diminta baru ngeh. Harusnya kan saya paham dengan sendirinya tanpa ibu bilang dulu.
Sambil malu dalam hati, saya bilang pada ibu. "Besok aku beliin. Yang Plum kan?" Ibu mengangguk., kayak yang dulu kamu belikan itu.
"Oke, mau berapa banyak? Seprapat apa setengah lusin Bu?" tawar saya. Paham banget sistem jual Plum di pasar lusinan.
"Setengah lusin sekalian, sama celana juga ya," ibu antusias.
Saya mengacungkan jempol dengan bersemangat. Acungan jempol yang sebenarnya untuk menutupi rasa malu di hati.
Ah, Bu, urusan sesederhana itu saja anakmu ini abai. Padahal yang ibu perlukan juga bukan barang mahal. Plum yang ada di pasar sudah sangat-sangat cukup. Jangankan minta, bahkan ibu tak tahu ada merek kutang yang mirip dengan nama presiden Amerika.
Secepatnya saya ke pasar Pasar Turi, pasar terdekat, mencari kutang buat ibu. Sayangnya, merek Plum tidak ada di kios yang saya tuju, yang apesnya hanya satu kios itu yang saya temui.
Ya sudah, darurat sementara, saya beli merek lain tiga biji dengan ukuran berbeda. Mau saya tunjukkan dulu pada ibu. Kalau ibu suka, saya balik lagi beli setengah lusin. Toh si abang penjual baik hati membolehkan pengembalian atau tukar ukuran, siip lah.
Sampai di rumah, saya sodorkan kresek berisi tiga buah kutang dan 3 CD pada ibu. "Ini bukan Plum, Bu. Plumnya nggak ada. Ibu suka nggak yang ini, nanti kalau suka aku beli lagi nggenapi kurangnya."
Kakak ketiga saya yang kebetulan sedang bertandang ke rumah ikut memperhatikan ibu yang sibuk mengamati belanjaan saya.
"Di pasar dekat rumahku banyak jual merek Plum," kakak menyeletuk, mau kubelikan ta?"
"Enggak usah, kapan-kapan aja kalau butuh lagi," sergah saya. Agak malu juga karena kakak saya laki-laki, masa saya nitip kutang sama dia.
"Lha besok juga nggak pa-pa, kan bisa nitip sama ibunya anak-anak," kata kakak.
Saya menggeleng sembari mengulum senyum. Kalau nitip ke mbak ipar saya malah nggak pa-pa, tapi sungkan juga. Pinginnya sebelum lebaran pesanan ibu sudah terbeli. Anggap saja biar ibu bisa berlebaran dengan underwear baru.
"Ntar aja tak cariin wis, nggak usah nitip," kata saya. "Biar cepet dapetnya." Kakak mengangguk.
Tak berapa lama, ibu selesai mengecek kutang-kutang barunya. "Yang ini saja, Tik, bukan Plum nggak pa-pa," ujar ibu menyodorkan pilihannya pada saya.
"Apa tak belikan aja di Pasar Atom sekarang?" sela kakak, merek Plum pasti ada lah di sana."
Hampir bersamaan saya dan ibu menggeleng. "Eh, enggak usah, nanti aja aku yang ke sana," saya berinisiatif. Urusan perempuan biar saya saja, pikir saya.
Ya sudah kalau gitu, ibu menengahi. Tapi sebentar ya perginya, aku tak leyeh-leyeh dulu, saya menyalakan kipas angin. Ibu mengangguk.
Tak lama berselang kakak pamit. Saya masih leyeh-leyeh ditemani ibu ketika pintu rumah terbuka. Ternyata kakak balik lagi, kresek putih bertuliskan "Pasar Atom" disodorkannya pada ibu, nih, dapat Plumnya, selusin."
Detik itu juga saya sukses melongo, makin speechless ketika isi kresek dibuka. Kutang-kutang dan CD merek Plum untuk ibu dibelikan kakak spontan, nggak pakai nanti-nanti. Dan yang membuat saya makin salut, tak ada canggung sama sekali dia.
Kakak cerita dengan entengnya, datang ke swalayan langsung ke gerai pakaian dan menemui pramuniaga di sana. Katanya, "Mbak,, saya cari kutang merek Plum ukuran sekian sekalian CD ukuran anu buat ibu saya, masing-masing selusin, tolong dibantu ya."
Mendengar ceritanya, saya betul-betul speechless. Yang santai banget cerita beli kutang dan CD untuk ibu tanpa canggung itu adalah seorang lelaki, dosen yang sudah 3 kali diwisuda oleh UGM, yang di tiap sesi mengajarnya di-nut sama mahasiswanya, juga dihormati teman-teman sejawatnya.
Tapi di hadapan saya, ia menunjukkan dirinya sebagai anak ibu. Yang baktinya adalah kewajiban. Yang cintanya adalah kunci-kunci surga lewat "birrul walidain" nya yang tak bersyarat, spontan, tanpa menunggu diminta.
Hati saya berdesir, rasanya saya makin tahu kenapa kakak saya ini hidupnya selalu happy seolah tak ada beban berat. Rezekinya juga adaaa saja walau tidak bergelimang kekayaan. Barangkali memang benar, salah satu kunci sukses keberkahan hidupnya adalah baktinya pada ibu.
Selusin kutang untuk ibu yang barusan saya saksikan secara langsung adalah buktinya. Saya ingat betul, istri kakak saya itu pernah bercerita kalau kakak saya pernah bilang:
"Apa-apa yang saya miliki, kalau ibu saya memintanya, pasti langsung saya kasihkan, bahkan jika ibu nembung rumah saya, mobil, atau apapun, saya akan berikan."
Saya tak bisa berkata-kata waktu itu, dalam hati saya hanya bisa berdoa, "Semoga Gusti Allah paring barokah kanggo sampeyan awit bekti luhur sampeyan, Mas. Matur nuwun, saya belajar banyak dari sampeyan."
Sangat berbahagia bagi rekan rekan yang masih punya orang tua. (Red/akha)




