Suaraposkodualima - Ketika kebenaran Nabi Ibrahim telah tampak dan alasan mereka kalah dalam debat tauhid, maka Raja Namrud memerintahkan kaumnya mengumpulkan banyak kayu bakar, untuk membakar Nabi Ibrahim. Mereka meletakkan kayu bakar itu dalam sebuah parit dan menyalakan api di dalamnya hingga menyala besar, lalu mereka melemparkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam keadaan terikat ke dalam api.
Saat itu menurut riwayat yang bersumber Dari Ibnu Abbas Nabi Ibrahim berdoa:
“Cukup bagiku Allah, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.” (Hr.Bukhari)
Maka Allah Ta’ala pun menyelamatkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan menjadikan api itu dingin. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Wahai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim,“ (QS. Al Anbiyaa’ :69)
Kisah di atas secara maknawi adalah jika kita dihina dan dicaci maki, difitnah itulah simbol kayu bakar untuk bahan bakar atau provokasi, maka jangan sampai kita juga ikut terpancing sehingga kita memaki dan menghina orang yang mendholimi kita.
Akan tetapi netralkan semua caci maki dan hinaan itu dengan membaca doa: “Cukup bagiku Allah, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.”
Dengan mengingat dan fokus kepada Allah hati kita tidak terpancing dan terprovokasi, jiwa tidak bergejolak, darah tidak mendidih, hati tidak kecewa sedikitpun. Orang yang mengingat Allah itu jiwa dan hatinya menjadi tenang dan tentram. Semua hujatan dan fitnah itu menjadi netral dan dingin, sehingga tidak menyebabkan hati menjadi marah terbakar.
Untuk itu jika anda tidak berbuat salah pada orang lain, lalu didholimi oleh orang lain dengan cara difitnah, dihina dan dicaci maki, maka abaikan saja jangan dibalas dengan cacian, melainkan balaslah dengan doa kebaikan kepada mereka, minimal memberikan klarifikasi yang benar.
Semua bentuk fitnah dan caci hina itu adalah sebuh proses pembersihan diri. Maka beruntunglah, dosanya sedang dilunturkan oleh Allah melalui ujian hidup yang sedang dialami dan dirasakan.
Akan tetapi jika kita membalasnya dengan cacian dan hinaan juga, maka kita telah terprovokasi menjadi panas hatinya dan terbakar, akhirnya jiwa dan hati kita hitam hangus terbakar.
Fitnah dan caci maki yang kita terima termasuk salah satu pembersihan jiwa jika kita menerimanya dengan ihklas dan legowo. Itulah jalan atau tarekat para Nabi yang selalu dimaki, dihina dan difitnah, sehingga mencapai derajat yang mulia.
Nabi Ibrahim dalam kisah di atas adalah simbol hati nurani yang ada di dalam diri setiap manusia yang selalu mengarahkan kedamaian, ketenangan, kebaikan, pemaaf, penyabar dan welas asih.
Sedangkan Namrud itu simbol hawa nafsu yang ada dalam setiap manusia yang selalu menyuruh dan bersifat kasar, dholim, sombong, pemarah, benci, dengki, suka menghina, mencaci, menfitnah orang lain.
Bagi pejalan ruhani jika ingin wushul (sampai) kepada Allah, maka jadilah Ibrahim yang selalu mengikuti hati nuraninya, selalu menjaga kesucian dan kebersihan hati dan jiwa. “(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.” (QS. ash-Shaffat: 84). Semoga jiwa kita semuanya semakin bercahaya.(Red/Akha)
